Facebook Google Plus RSS Feed Email
"Aku Hanyalah Debu Berselimut Nafsu!"
Blog ini adalah serangkaian kumpulan sadjak dan berbagai tulisan sastra, karya Helyn Avinanto (Helin Supentoel)

Jumat, 23 Desember 2011

Merpati

oleh Helin Supentoel pada 23 Desember 2011 pukul 4:01
oh.. merpati
jangan kau menggodaku
perut buncitku sudah tak tahan lagi merasakan lapar
ingin lekas melumatmu mentah-mentah
begitu pula gigi taringku yang mulai berkerak, saat ku tanya
siap menghisap lezat harum darahmu
mencabik-cabik sekujur tubuhmu
dan seluruh tulang belulang segala isi yang kau punya
lidahku pun juga siap menari-nari
meresapi tiap inci ranum dagingmu
selepas ku tanggalkan satu demi satu bulu menjubahimu
seperti udara memunguti nafasku yang busuk

bila aku belum merasa kenyang
ku bungkus saja sekalian indah bulumu itu
hingga kau tak lagi ingat
siapa gerangan yang pernah mendekapmu dalam sangkar

namun,
bila kau berkenan enggan menggodaku lagi
kan kujadikan kau peliharaanku saja
biar setiap waktu ku selalu mendengar ocehan-ocehan merdumu
mencuri benih-benih padiku yang sudah menguning
atau pula kujadikan saja kau patung boneka
biar kau tak lagi mengepakkan sayap ke langit
memberi kemarau senja di musim semi padaku

dan saat ku menginginkan panggung opera
kau kan siap ku mainkan tuk apapun peran cerita
pastilah cukup aku saja yang menjadi sutradara
bukan mereka yang kian berdusta
dalam cumbuan kata

mereka hanyalah menginginkan selembar kehangatan senyum saja
bukan diriku



Ngawi, 23 Desember 2011
Read More..

Kamis, 22 Desember 2011

Kamboja

oleh Helin Supentoel pada 22 Desember 2011 pukul 1:41

Hanyut sudah semua dalam derai air mata
saat purnama kembali temaramkan hatinya yang luruh
Di bawah senyum putih kamboja
Rintik hujan seakan mengiringnya berpulang
langit tertunduk sendu
dan si gagak,
Riang dalam celoteh kebusukan
Sembari menertawakan di antara reranting kering
Mendekap kemeriahan rumah pertapaan
Bahwa seraut kawan telah datang menemaninya meniup malam

Derai air mata semakin menanggalkan cerita
Bibirnya sudah tak mampu melesatkan manis canda
Hanya jeritan dan beku gigi menggetar cinta kasih
Sementara si kecil yang baru saja menetek
Meresapi keheningan menjadi abu-abu
Lentik matanya masih sayu
Entah bagaimana kelak ibu menjawab bila di tanya
"Bu, aku ingin bertemu bapak
 aku ingin di peluknya
 sehangat engkau memelukku, Bu"

Bukankah lebih berat menjinjing gemuruh gunung yang mengencupkan sayang
dan menelan lautan bara hingga rumput-rumput meringkuk dalam rayu
Dari pada harus menjelaskan kedukaan yang telah terpendam sempurna
pada batu yang terdiam nama

Gelisah kian mengkaca Ibu
Saat fajar kembali membuka awal cerita


Ngawi, 22 Desember 2011
( semoga Ibu selalu tegar dalam cintanya)
Read More..

Sabtu, 17 Desember 2011

Dinda

oleh Helin Supentoel pada 17 Desember 2011 pukul 2:47
Dinda,
tahukah engkau perasaan ini
selalu saja mendegap kencang saat menatapmu
senyummu telah menawanku dalam bui indahnya
membawaku dalam gugusan-gugusan mimpi bahtera
hingga setiap kali ku buka mata
hanya raut parasmu saja menjadi kaca ku menatap

aku tak sadar
bagaimana udara membisikkan pesan
akan cinta kita yang teramat berbeda
yang mereka bilang tak sama
kita terpisah rentang jarak membenamkan
namun,
apakah cinta mampu mengatakan kita berbeda
mata sajalah yang membedakannya

Dinda,
bila nanti mentari kan terbit dari ufuk barat
kan ku culik saja kau di balik beranda rumahmu
biar mata yang membuat berbeda tak mampu berkata apa
dan mereka baru kan merasa
cinta kita tak mati di telan samudra
dalam tungku dan api bianglala


Ngawi, 17 Desember 2011
(aku yang kangen dengan kekasihku)
Read More..