Facebook Google Plus RSS Feed Email
"Aku Hanyalah Debu Berselimut Nafsu!"
Blog ini adalah serangkaian kumpulan sadjak dan berbagai tulisan sastra, karya Helyn Avinanto (Helin Supentoel)
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

EPILOG MALAM


Dan sayap-sayap kabut merayapi daun-daun telungkup di atas rebahan
paruh malam mencumbunya dengan sekeranjang tinta merah
gelap lekas menyapu belaian poranda
"diam..., usah teriak.
bukankah kita telah sama-sama mengerti?"

sementara malam kian menghunus tumpul kerisnya
tangkai-tangkai basah melontarkan cahaya
serupa aurora di hamparan jari-jari hujan
terjatuh, tenggelamkan keriput mata
menawan gambut tanah kemarau

ada sapa di belahan jendela, pigura dari segala roda
bukankah itu memang bulat cerita malam?
saat segalanya raib, belajar mengulas tajam peradaban
lapuk.
musim masih setia menari-nari sunyi

sebelum benar-benar pagi, mari kita rampungkan perbincangan ini
hingga benar-benar kosong
engkau api, aku kayu
sampai jadi abu
di antara setangkup waktu

Ngawi, 28-08-2014
Read More..

Sabtu, 18 Mei 2013

KUPU-KUPU TERBANG, DUH SAYANG




lihatlah ini malam
kupu-kupu terbang warnanya merah
semerah bibir-bibir bunga yang gugur di muara
harum tereja oleh belukar senja
lantas terbawa alir menuju samudra
terbelah oleh angin, membekab dingin
mungkin sedang lapar dari kerinduan
akan haus pelukan kekasih tersayang

saat musim sejenak beku
sulur-sulur pohon rantingnya kelu
diterjang badai yang meledak-ledak
berharap gemuruhnya meluap di jakunmu
menjadi malam angka-angka tinggal
dari lembar sayap melempar mata dajjal
sebab, taburnya laksana bebintang di dinding langit

mengkerlip di antara reruntuhan awan
lantas mengelupas menjadi bulir-bulir hujan
dan jatuh di taman mandalawai
siapalah yang tidak menyemai

"akankah rembulan cahayanya terpinjam ini malam?
ah, betapa kekarnya rimba"


malam kembali hampir pagi
sementara kupu-kupu itu hangus di serambi
mengejar bayang mengubur sunyi
pada bulan-bulan kenangan
duh sayang,
kupu-kupu menjadi arang

"sebelum tasbih berakhir, mari kita rampungkan percakapaan ini...!"

disanalah waktu menjadi kejam
menyambut sungsang, meretas cahaya malam




Grobokan, 21 April 2013
Read More..

Wajah Malam


engkau rembulan berwajah awan
tuntaskan malam mengais fajar
menarilah selembut angin
merintihlah seringkih ranting
sebab rindu enggan berguru syahdu
dari benalu bertaring seribu
jadilah malam itu hujan tumbuh
bersemi menabur keriuhan peristiwa
di atas seru nada menggiring duka
pada cinta tak tau tertinggal di mana
mungkin lusa hari pekan raya



24 April 2013
Read More..

Cahaya Bunga Hitam

sepasang mata itu akhirnya runtuh setelah angin memberi kabar tentang bunga hitam
langit sepi merubah wajahnya menjadi berawan, laun gelap
merembah di atas tanah yang baaunya tak kau inginkan
tiada kau dambakaan dan kalian rencanakan sebelumnya
dan gemuruh tiba-tiba pecah dalam kobar membara
seperti api dari tungku dengan air di dalamnya mendidih
sementara hujan yang tak di undang berdatangan dalam tajamnya
seperti jarum-jarum menyulam kain menjadi sehela pakaian
ya, pakaian kesucian menghantarkannya pada dingin malam sendiri
tiada tembang pun kehangatan kekasih mendekab dengan segala pelukan
yang ada hanya kemiskraman dan suara-suara yanag pecah menambat segala keheningan

"hanya waktu menjadi jawaban di antara kegelisahanmu"


24 april 2013
Read More..

Menanti Detik Tanya


kemana lagi kucarai engkau, duh kekasih
semenjak musim lusa yang nampak ringan itu
leret bayangmu mengendap di atas malam-malam buta
menjadi huruf-huruf yang bersiap-siap kan menembus kelu kembara

di ujung jalan itu kita sama-sama tahu
antara mata kemata saling memberi pesan
bahwa ada gejolak yang hendak terpupur menjadi sejengkal kisah indah
layaknya bebunga tumbuh di taman
aromanya mengendap-endap hingga mencuri sehela sadjak
jadilah gairahku mengidap lembar wajahmu

di sinilah kita berjanji menguraii segala kegelisahan malam itu
lantas engkau kan merebahkan segala kerinduan yang selama ini membrangusmu, pun diriku
dan seketika itu terjadi
kita tak lagi menjadi sepasang burung mengerling sebelah mata
namun jelas waktu kan terbaca


24 April 2013
Read More..

Kubaca Jalan

"ini malam menjadi riuh
antara bulan-bulan yang tanggal di atas ubun kota
dan tentang cahaya-cahaya yang tumbuh menelan sukma"


ya, di kota rombong inilah gemuruh itu menjadi biji-biji api
meluap-luap berharap meledak di pucuk bedil
menjadi jejak-jejak keriuhan pada hening yang kembali menghunus gairahku

di sini seakan daun-daun gugur warnanya merah
laun berserakan ditepian jalan dengan meminjam cahaya rembulan
yang bundar seperti route simpang lima dengan di tengahnya nampak tempayan air mencakar langit
inginnya membasuh raga sembari berenang dalam hangatnya perjumpaan
sebab dingin telampau purba melipat-lipat kerinduan
dan inginya melukiskan wajah di dinding-dinding
tapi, hanya bayang-bayang yang bersandaang ria
beriak seperti gelembung-gelembung didih

tahukah kalian,
hendak menegur sepi dengan sederet tembang
tapi belum sampai dilarik nada pertama, tembang itu runtuh setelah bengisnya malam mendekab dinginnya kemiskraman
sementara lampu-lampu yang menarik aura, tiba-tiba saja redam dan kandas terbalut sepi
mungkinkah ini terlampau larut?
ah, aku tak tau
sebab ini kali pertama cemburu

"sedap malam kemana tarian sunsangmu
aku ingin menuntaskan sunyi sepi
seperti kering tanah di telan terik
riuhnya mengambang kegersangan"


kubaca jalan,
hanya bara beku mengkistal di antara lampu-lampu

Grobokan, 21 Maret 2013

Read More..

Menatap Nisan UJE

"mari kita rampungkan percakapan ini"

aku semaput di depan pintumu, setelah kau benar-benar seret diriku pada kesenduan tempat yang teramat kuimpikan. tanggal dari biji bola mata, laun mengendap di antara gersang tandus tanah melahirkan berjuta pejuang di atas-jung-jung perkasa. meski sejarah nampak jauh, namun kurasakan betapa gaduh saat itu. saat dimana petarungMu meninggikan bendera dan mehimpun tiap biji-biji yang kelak terjadikan sekarung saku menemu pintu gerbang perjalanan.

tetap saja udara semakin melarutkan segala kesunyian saat raga ini lungsruk, dan angsup pada suasana yang kini bukan mimpi buta.

"kenangan itu ambyar bersama musim berserakan"




18 april 2013
Read More..

Kekasihku

kekasihku
engkaulah embun itu pagi
menari-nari seranum bunga musim semi
di antara kuntum dan jerami

kekasihku
jadilah aku seperti kicau kenari
saat anggunmu menuntaskan segala tarian sunyi
yang membalutku seperti api

kekasihku
andai engkau benar torehan ilahi
biarlah diriku tak hanya punya mimpi
atau lautan dini hari
yang sepi elegi

kekasihku
meski hujan kembali mengecup dini hari
biarlah aku menjadi sederet pelangi
di atas segala gemuruh negeri
oh, kekasihku
abadi

Ngawi, 14 April 2013

Read More..

Langit Gersang Cahayanya Beku

"kerinduan ini haruskah kandas ditelan hening malam
seperti angin yang perlahan kering mengecup ranting kebekuan"


membaca warna jagat,
di langit bebintang seperti melambai bayang
nampak dinding dangan diam hendak menjadi nada kerinduan
pada hari panjang seletas bulan kenangan
ya, april

di tempat teduh ini sempat kita terduduk berdua
meresapi laman-laman alir air menjamu telaga mesra
menjadi pesona raya pada leret warna bunga
dengan aroma yang dirimu dan aku saling mengerti
saling menuntaskan segala ketiadaan sepi
sembari mendengar deruseru ranting menggunjingkan lapak pengkabaran
antara air dan api yang selalu bertatap ruang
disanalah kita berada
membawa segala torehan pena

detik-detik yang telanjang
tiba-tiba merubah tik-tik hujan tumbuh di lautan
laun bergemuruh dalam terjal riaknya
menjadi gelombang dengan taring yang mencakar
seperti gading retak mencacah kalender tua
dengan meninggalkan angka di setiap bayang sendawa

semestinya perjalanan buta, malam pun menjadi legam
jejak-jejak bisu mengurai kelambu dengan cahayanya abu-abu
lantas berubah menjadi kegelapaan pekat
seperti ladang bara bergairah kemudian padam di hembus angin
tinggallah menjadi abu keusangan musim
dan disitulah kebekuan itu menemu payau takzim

ya, april
cukuplah engkau tau
debu cahayanya menjadi rajam kelabu waktu


Ngawi, 14 April 2013
Read More..

Wajah Taman

kuncup-kuncup mekar di taman malam
mengejar kerlip bintang menarik ruang
menjemput rindu rentang kalbu
yang harinya kering di rudung angin
kembali di serambi beku

dengan cahayanya, siapa hendak bertahta
lantas menari di lautan jingga
sembari menetakan tarian-tarian purnama
seliuk musim-musim pancaroba

dan siapa pula tak merindu kuncup-kuncup itu
sedang rindu kian menggebu-gebu seperti gelombang
meliuk, lantas mencakar karang dengan sederet terjang
ketiadaan bayang-bayang

"aku takkan iba, andai kau menawan sukma"

Ngawi, 13 April 2013
Read More..

Akhir Malam Berjumpa

dan sekirannya ini adalah akhir malam kita berjumpa
biarkanlah rindu ini selayaknya terjaga
menjadi cahaya di antara malam-malam sesungguhnya
antara samar rembulan merundung langit senja

dan sekiranya ini adalah akhir malam kita berjumpa
layaknya purnama pagi mengungkap mimpi
biarlah gelombang-gelombang cinta tanda kebekuan hari
yang kan mengisi ruang pantai menjadi bulir-bulir pasir
di mana jejaknya kan terkenang segeramang angsa di bening telaga

dan sekiranya ini adalah akhir malam kita berjumpa
mengapa hujan begitu tajam
tiada menyisakan sehela keredaan di tabur jalan
perlahan angin surut
bayang-bayang itu semestinya berangsut
menjadi sekedar pelepasan malam angslup

13 April 2013
Read More..

Bronto Sepo

Di tengah tarian malam
Wajah-wajah beku perlahan menghilang
Entah siapa menjemputnya pulang menimbun kenangan
Sedang bayang-bayang kian telanjang dalam dekapan
Seperti gelombang pasang lautan senja
Pastilah gulung deburnya menusuk ruas telaga sukma
dan tuntas menyibak nganga bara

Sekiranya malam larut
Di antara musim bunga membakar gelisah samudera
Tak ada yang mampu kulakukan
Selain meramu sunyi sepi gangsal-gangsal purnama
Menjadi geramang nada yang pecah tak tuntas-tuntas
Sembari membaca kembali rongga-rongga jejak purba
Yang lamat tiada reda menyuluk air mata

Dan kerinduan ini semakin tak bertepi
saat gairahnya melebihi lalat api


Ngawi, 10 April 2013
Read More..

Laman Purba Kembali Berkata

semenjak surya senja tergelam di antara sela-sela karang
serasa kulihat lagi dirimu tumbuh menjumpai ladang
kembali menabur biji-biji bunga
laun dengan lembut kasih kau siram teduh
dan engkau pun tak lupa
memberi sapa pada selarik cahaya yang berkilau di dinding mega
ah, tak kukira
ternyata engkau tiada tuntas-tuntasnya membawaku
berlari di kelambu merah jembu
meski segalanya telah raib ditelan beku waktu

: lautan pecah, jangan kau tarik lagi diriku menekuri terjal gelombang
yang menjadikanku selesu debu melumut kelu

10 April 2013
Read More..

Tetes Gerimis

semestinya bayang-bayang itu tinggal pertanda waktu
lantas mengapa musim serasa masih tetap sama
bahwa leret cahayanya tiada redang mengepul bara
seperti tajam pisau menggores batu
lekang di antara sadjak seribu

dan semestinya bayang-bayang itu sangkar sembilu
izinkanlah lembah madu menemu dangkal alirnya
seperti air mengalir pastilah sampai muara
laun menuju samudra
hingga sirna menjadi sederet bait tua

"bawalah rinduku menuju purnama
sebab bosan telan memenjarakanku
menjadi gugusan-gugusan abu
lebur di antara tetesan-tetesan gerimis senja cemburu"



09 April 2013
Read More..

SANGSI

Merudung bulan purnama
Masihkah aku harus percaya penyair
Kalau di tiap lorong malam masih tersisa sosok jeritan
Dengan kejam mencabik-cabik sepotong kenangan
Telanjang di muka bayang-bayang

Bukankah katamu dulu,
“Puisi adalah nurani. kutukan Ilahi,
labuhan dari beribu gelora sunyi sepi,
pula gairah rindu di atas segala lekuk tarian elegi”

Bagaimana kumampu memahami setiap patah jeritan yang tumbuh merdu itu?
Andai kerap kali waktu menjelma teka-teki baru
Sedang kunang-kunang telah pulang bersama ribuan burung melaknati malam sembilu

Dan semuanya menjadi kegaiban beku
Bagaimana aku bakal memahamimu?
Oh..., telanjang malam
Mata rabunmu merubah dingin rahasia kuburan waktu
Sebab bulan-bulan masih senantiasa berdarah legam lesam
Menyamaki angin merajut gelombang pulang

Tak bolehkah aku sangsi
Kalau penyair tak lagi jujur berpuisi
Merdu hanya di atas segala bunyi

Ngawi, 05 Mei 2013
Read More..

Senin, 08 April 2013

NEON-NEON MALAM DI SURABAYA


Ini Surabaya,
Kota lama lautan harum bunga
Di mana, berjuta air mata tanggal
Berjuta sukma terpenggal
Dengan darah, siap mengepal
Tuk kibar merah putih tetap tinggal

Ini Surabaya,
Bila senja pulang dalam tenang
Gangsal malam pun bersandang rindu
Pijar neon-neon laun dengan sendirinya tumbuh seribu
Termangu-mangu sembilu di balai bambu
Apalagi di ruang beku, kerlip-kerlipnya tak kuasa mengadu-adu
Laksana permata dengan cahaya merah yang tumpah di tengah padang samudra
Lantas menjadi mutiara pada cangkang rona-ronanya
Seperti pula larva-larva lesam yang ambyar dari sarang
Meminjam leret rembulan di malam punama
Laun mengusung haus telaga kecupmu
Meski jari-jari hujan tumbuh seribu
Tetap, sungsang malam tiada sendu meramu kebekuan waktu

Ini Surabaya di malam terjaga
Syahdunya kian menggila, membakar teduh telaga
Nampak butiran-butiran kaca larut di antara bayang-bayang
Pada siapa kan meminta?
Sedang malam kian terbungkus kunang-kunang
Yang gusar menunggu sayang layang-layang
Menyeduh nganga gelora madu
menjadi tarian sandiwara surga lesu

Dan ini kali pertama diriku di Surabaya
Bermanja-manja di antara lautan bunga
Bukan pinta, bukan pula cinta menghanyut lebur kembara
Namun, ini suluk-suluk malam yang tiada reda menjerit-jerit pada rimba
Menjadi nada-nada kejora mencakar gulung gelombang bara
Laun terbawa angin menemu payau airmu

Oh, Surabaya
Sandingmu membawa jejakku telanjang beku
dari kelu dan ngilu jakunku

Ngawi, 07 April 2013
Read More..

Jumat, 05 April 2013

SEMALAM DI PALESTINA

Semalam,
Tak ada yang meminta hujan di Palestina
Sedang di langit, matahari tak bosan-bosannya menjerit
Menjadi peluit, dan kaki-kaki lekas berdecit
Lantas redam dalam hitungan detik

Semalam,
Tak ada yang mengundang badai di kota seribu duka
Sangit mesiu menjadi aroma gempita senja
Segalanya terlahir dari musim-musim berburu
Dari rahim-rahim ajal

Semalam,
Di tanah merah itu jam-jam menjadi beku
Detik-detik bermimpi pun kandas bersama mulut meriam
Dan rentetan peluru yang masih hangat menjadi bola mainan
Pada bayi-bayi yang belajar mengokang senapan
Saat bunyi-bunyi pecah menampar pelukan
Dan cahaya mata yang merah menyala-nyala
Menjadi sadjak-sadjak yang tanggal pada angka-angka yang tetap tinggal

Semalam,
Ada yang tertatih-tatih membaca kabar media
Bahwa di Gaza malam berpesta aroma bunga
"Bapa, aku ingin menulis puisi cinta,
seperti palestina tak lelah air mata"

Ngawi, 28/03/13
Read More..

GEISHA



Aku puja engkau cahaya itu pagi
tumbuh di antara bening-bening embun mandalawai
laksana mutiara cangkang merak
pastilah eloknya kan menyeruak pesona perak
saat kubuka daun jendela
harummu semerbak sakura dimusim semi yang tiba
mekar laksana rembulan purnama di atas kota
yang berdesah

aku rindu engkau seperti rindunya malam menuntaskan sepi
saat gairah-gairah samudra terbakar amarah
laun pecah menjadi dangkal gerimis
yang perlahan kering
seiring angin menyimpuh raga
seperti genderang pejuang tertabuh di medan perang
jadilah terjang menerjang sarung pedang melayang

bila ini indahnya senja gila
sebelum kulumat bayangmu yang telanjang di rahim mega
dambaku,
janganlah kau padamkan gelora api sadjak pujangga
menyanjungmu dalam tiap purus-purus kata
setelah kau bakar diriku dilautan asmara
atau kau kuras darah tubuhku yang merah saga
lantas kau sandingkan aku pada malam buta

oh, Geisha...

Ngawi, 27/03/13
Read More..

Sekar Merah Jingga

Sesekali saja nampak tawa itu, sesekali pula awan mengusung kelabu
suram-suram hutan memberi hangat dekapan malam di tengah kebutaan
danau-danau sumbing merubah kering menjadi basah embun
lantas alirnya mengikuti tepi terjal hingga teresap di bebatuan
dan rembulan yang kesakitan
dengan diam-diam membaca wajah di ruas jendela
berharap lekas jumpa senandung lembah jingga

ada resah yang terkapar, ada pula gairah yang terlontar
saat burung-burung lapar terbang menukik lantas membidikkan paruhnya
seperti lebah yang rakus menyengat sekar
meski sayapnya merentang pun telah kelelahan
dan bulu-bulunya yang dahulu masih lebat sekarang tinggal beberapa helai
sebab helai-helai lainnya tanggal di musim-musim yang gangsal
tetap burung-burung itu merasa kekar laksana pilar

bukan pelarungan langit dalam jam-jam setia
seperti roda sepeda yang oleng sebelum lama terputar
lantas rontok dalam beberapa kayuh tercipta
bukan pula suara-suara miskram terdengar cetar layaknya serigala lapar
segalanya lekas tuntas setuntas-tuntasnya
laksana embun dilembar dedauan
perlahan mengkesat tinggal jejak menjadi bayang keabadian

"lembah jingga,
mengapa kau kutuk diriku menjadi meliwis berbulu merah,
sedang diriku sejumput gelisah resah"

30/03/13

Read More..

Dik Sri 24




Dik Sri, aku pulang
tolong ambilkan air di kendi, rasanya hausku tak tahan lagi
seharian matahari terasa membakar tiada punya iba, Dik
meski telah kupakai kaos tebal, jaket berjumbal-jumbal, sepatu, dan caping,
tetap, rasanya seperti telanjang
setelanjang jalan-jalan kota ini, kering tiada pohon memancang lagi
semuanya habis di telan yang katanya pelebaran jalan, bangunan, kabel listrik, bahkan katanya sering tumbang itu!
seperti yang kubaca dari koran bekas tahun lalu, yang sudah jadi sampah pembungkus nasi

Dik Sri,
meski sampah di gerobak baru memuat setengah, tak sebanyak kemarin pun lusa, aku tadi segera pulang lekas-lekas
sebelum surya remang menghilang dari mata, dan mengaburkan tatapan
sebab ini malam minggu, malam yang kita tunggu-tunggu, Dik
seperti janji kemarin, mengajakmu jalan-jalan kepasar malam kampung sebelah yang terdengar sangat ramai
ada komedi putar, tong gila, kereta, mainan air, dan masih banyak lagi
ada pula arum manis, tahu petis, martabak, terang bulan, pun segala cemilan

pokoknya semuanya ada

Dik,
aku ingin mengenang lagi pertemuan kita pertama dahulu
saat naik kuda-kudaan kulihat dirimu tersenyum di pagar
berkali-kali putaran senyuman itu tiada berujung padam
laun kusapa dirimu sesudahnya di penjual kacang rebus tak jauh dari tempat itu
tahukah kau, Dik
saat itu hatiku sangat berdebar sekali, meledak-ledak rasanya, seperti akan copot
tapi aku tetap beranikan diri menyapa
sebab senyumanmu itu, Dik
membuatku penasaran dan runyam gelisah

O... iya Dik,
tadi sewaktu pulang, di tikungan tak jauh dari gubuk kita, kulihat ada penjual parfum
kucium, harumnya semerbak sekali menyulut hati, seperti melati diterpa udara pegunungan yang sejuk
lantas, kuraba di saku celana ada uang lima ribu perak
uang yang kamu kasih tadi pagi untuk membeli air minum bila habis
tapi tak kubelikan
sebab, meski hari ini panas sekali, aku tiada peduli
semuanya untuk kamu,
seperti janji menyuntingmu dari orang tuamu yang membakarku dengan berjuta hambatan, Dik

tahu kan, Dik

bahwa cinta kita ini leburan dari gula dan serbuk kopi menjadi secangkir kopi hangat?

di tambah lagi saat kau menyeduhnya dengan leret senyuman manis dan hangat

ah, aku semakin dalam-dalam sekali mencintaimu


Dik Sri,
nanti saat kita kepasar malam, kamu pakai pakaian yang sama saat pertama kita berjumpa dahulu itu ya, Dik
begitu pula dengan diriku
masih kamu simpan rapi di almari kan pakaian itu, Dik?
jangan lupa pakai pula parfum ini
maaf ya Dik, bila sudah lama tak kubelikan parfum, dan sudah lama pula tak kuhirup harum ditubuhmu
bukan tak sayang padamu, namun mengertilah,
bahwa kesetiaan ialah keharuman itu abadi


lagi, Dik
jangan lupa juga bawa air minum,
jika nanti kita kehausan bertawa-tawa ria lagi

mengenang indahn cinta sanubari


Ngawi, 03 April 2013
Read More..