Facebook Google Plus RSS Feed Email
"Aku Hanyalah Debu Berselimut Nafsu!"
Blog ini adalah serangkaian kumpulan sadjak dan berbagai tulisan sastra, karya Helyn Avinanto (Helin Supentoel)

Kamis, 23 Agustus 2012

Dengan Melodi, Kuciptakan Nada Senja



Dengan melodi,
kuciptakan nada senja
kala mencumbu hari mengejar mimpi
menjumpai mentari yang lama sembunyi dikerutan dahi
biar suatu pagi kala kubuka jendela kan ada keharuman embun menerpa telaga rasa
menjadi nafas dan terbenam dilipat dada
melebur dinding gelap dengan sebuah cakrawala
dalam nada-nada tercipta

sepasang lapak kaki ini pun kekar
menapaki kerikil yang bertaburan disepanjang jalan menuju samudra
meski sebentar lagi usai masa meraba
tetaplah kukuh menimbun pesona
berharap senja bermetamorfosa
menjadi seribu cahaya dimalam merupa

seberapa lama lagi kusita bayang-bayang
sementara hujan sudah enggan berbenih sapa
membaringkan segala desah gempita
dinding malam tiada cahaya mewarna

Dengan melodi,
dengarlah nadaku
rangkaian syair butiran debu
saat senja mengadu-adu
di atas telaga biru


Ngawi, 29 juli 2012
Read More..

)* Kau Bungkusku Dalam Bungkusmu


aku tau engkau tersenyum gembira menatapku diantara kuntum-kuntum kamboja
dalam senyap membasahi percintaanmu yang abadi
pula mencuri rasa ranting-ranting
yang kau ajak menari-nari dalam geramang aksara dan hujan tiada lg basah
sepertiku

engkau pula membuatku cemburu
sangat cemburu sekali kali ini
seperti tikaman cakar-cakar beracun merajah tubuhku dengan segala tenaga
lantas mencincangku diantara dua batu pahatan nama menjulang utara
apalagi kau tiada lagi merasakan panas dan dingin menusuk-nusuk
dalam lelapnya
sepertinya bayang-bayangmu telanjangi keteduhan telaga dalam-dalam
menjadi seribu kepingan curam

haruskah aku tersenyum sepertimu,
tuk usaikan yang membungkusku dalam bungkusmu?
lantas kita sama-sama tertawa bungkus kembali langit-langit mereka yang memerah

"terang laun berubah malam, tapi waktu kan tetap membekukan ketajaman"

Helyn Supentoel, Ngawi, 18/8/12
Read More..

Senin, 02 Juli 2012

Pesan Untuk Anakku Kelak


Nak, dengarlah
Bila kelak engkau terlahir
janganlah seperti bapakmu ini
yang memunguti bisul-bisul dalam diri, kian membabi
dalam memaknai kebusukan hari-hari terjalani
menderaslah pada ibumu saja
yang langka seperti mutiara permata
menebar pesona raya tiada cerca noda
abadi sepanjang masa

Nak, bila memang kelak engkau terlanjur menelan bisul-bisul bapakmu ini
aku tak melarangmu, takkan pula memarahimu
pastilah kan kurestui kehendakmu sebagai jalanmu
namun engkau harus berjanji
kan membuang jauh segala kebusukannya
hanya akan mengurai kelegitan madu saja
biar kau tak kelalapan

dan suatu hari jangan salahkan waktu, bila akan berbicara kesamaan terhadapmu
pula terhadapku sebagai Bapakmu
andai dalam dirimu kan tumbuh pula kelaknatan, kebejatan, kebusukan sepertiku
yang rakus mengukir siratan makna menjadi untaian kata-kata puisi
terpaan keresahan hati, tiada mati
seperti Ibumu kukawani
kucintai
dan lahirlah engkau
buah kerakusanku

dan pastilah engkau kan tau
dimana letak sebenarnya keindahan berpuisi
tercintai
sepertiku...

Ngawi, 2 Juli 2012
Read More..