Facebook Google Plus RSS Feed Email
"Aku Hanyalah Debu Berselimut Nafsu!"
Blog ini adalah serangkaian kumpulan sadjak dan berbagai tulisan sastra, karya Helyn Avinanto (Helin Supentoel)

Sabtu, 18 Mei 2013

Laman Purba Kembali Berkata

semenjak surya senja tergelam di antara sela-sela karang
serasa kulihat lagi dirimu tumbuh menjumpai ladang
kembali menabur biji-biji bunga
laun dengan lembut kasih kau siram teduh
dan engkau pun tak lupa
memberi sapa pada selarik cahaya yang berkilau di dinding mega
ah, tak kukira
ternyata engkau tiada tuntas-tuntasnya membawaku
berlari di kelambu merah jembu
meski segalanya telah raib ditelan beku waktu

: lautan pecah, jangan kau tarik lagi diriku menekuri terjal gelombang
yang menjadikanku selesu debu melumut kelu

10 April 2013
Read More..

Tetes Gerimis

semestinya bayang-bayang itu tinggal pertanda waktu
lantas mengapa musim serasa masih tetap sama
bahwa leret cahayanya tiada redang mengepul bara
seperti tajam pisau menggores batu
lekang di antara sadjak seribu

dan semestinya bayang-bayang itu sangkar sembilu
izinkanlah lembah madu menemu dangkal alirnya
seperti air mengalir pastilah sampai muara
laun menuju samudra
hingga sirna menjadi sederet bait tua

"bawalah rinduku menuju purnama
sebab bosan telan memenjarakanku
menjadi gugusan-gugusan abu
lebur di antara tetesan-tetesan gerimis senja cemburu"



09 April 2013
Read More..

SANGSI

Merudung bulan purnama
Masihkah aku harus percaya penyair
Kalau di tiap lorong malam masih tersisa sosok jeritan
Dengan kejam mencabik-cabik sepotong kenangan
Telanjang di muka bayang-bayang

Bukankah katamu dulu,
“Puisi adalah nurani. kutukan Ilahi,
labuhan dari beribu gelora sunyi sepi,
pula gairah rindu di atas segala lekuk tarian elegi”

Bagaimana kumampu memahami setiap patah jeritan yang tumbuh merdu itu?
Andai kerap kali waktu menjelma teka-teki baru
Sedang kunang-kunang telah pulang bersama ribuan burung melaknati malam sembilu

Dan semuanya menjadi kegaiban beku
Bagaimana aku bakal memahamimu?
Oh..., telanjang malam
Mata rabunmu merubah dingin rahasia kuburan waktu
Sebab bulan-bulan masih senantiasa berdarah legam lesam
Menyamaki angin merajut gelombang pulang

Tak bolehkah aku sangsi
Kalau penyair tak lagi jujur berpuisi
Merdu hanya di atas segala bunyi

Ngawi, 05 Mei 2013
Read More..