Facebook Google Plus RSS Feed Email
"Aku Hanyalah Debu Berselimut Nafsu!"
Blog ini adalah serangkaian kumpulan sadjak dan berbagai tulisan sastra, karya Helyn Avinanto (Helin Supentoel)

Kamis, 28 Agustus 2014

EPILOG MALAM


Dan sayap-sayap kabut merayapi daun-daun telungkup di atas rebahan
paruh malam mencumbunya dengan sekeranjang tinta merah
gelap lekas menyapu belaian poranda
"diam..., usah teriak.
bukankah kita telah sama-sama mengerti?"

sementara malam kian menghunus tumpul kerisnya
tangkai-tangkai basah melontarkan cahaya
serupa aurora di hamparan jari-jari hujan
terjatuh, tenggelamkan keriput mata
menawan gambut tanah kemarau

ada sapa di belahan jendela, pigura dari segala roda
bukankah itu memang bulat cerita malam?
saat segalanya raib, belajar mengulas tajam peradaban
lapuk.
musim masih setia menari-nari sunyi

sebelum benar-benar pagi, mari kita rampungkan perbincangan ini
hingga benar-benar kosong
engkau api, aku kayu
sampai jadi abu
di antara setangkup waktu

Ngawi, 28-08-2014
Read More..

Selasa, 30 Juli 2013

Stlistika Puisi



Dalam penciptaannya, puisi disusun pengarang dari sebuah pandangan realita kehidupan pengarang, atau juga bisa dari imajinasi pengarang melihat keadaan yang berkenaan dengan sebuah problematik yang terjadi dalam masyarakat. Apabila penciptaannya mencerminkan masyarakat aslinya, puisi dapat dijadikan sebuah teks masyarakat sebagai catatan karya sastra melalui ciptasastra. Esten (2000:8), menegaskan:

Sebuah ciptasastra bersumber dari kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat (realitas-objektif). Akan tetapi ciptasastra bukanlah hanya pengungkapan realitas objektif itu saja. Di dalamnya diungkapkan pula nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung dari sekedar realitas objektif itu. Ciptasastra bukanlah semata tiruan dari pada alam (imitation of nature) atau tiruan daripada hidup (imitation of life) akan tetapi ia merupakan penafsiran-penafsiran tentang alam dan kehidupan itu (interpretation of life)

Ciptasastra mengungkapkan tentang masalah-masalah manusia dan kemanusiaan. Tentang makna hidup dan kehidupan. Ia melukiskan penderitaan-penderitaan manusia, perjuangan, kasih sayang dan kebencian, nafsu dan segala yang dialami manusia. Dengan ciptasastra pengarang mau menampilkan nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung. Ingin menafsirkan tentang makna hidup dan hakekat hidup, salah satunya puisi-puisi dalam buku puisi “Baju Bulan” karya Joko Pinurbo yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia Building Blok I lt. 5, Jl. Palmerah Barat No. 29-37, Jakarta 2013. Kumpulan puisi tersebut tampak sederhana, namun sarat makna, di sana-sini mengandung humor dan ironi yang menyentuh absurditas hidup sehari-hari, dan menarik perhatian karena banyak menyajikan renungan yang intens mengenai tubuh. Dalam puisi-puisinya, tubuh bisa menjelma menjadi berbagai metafor yang menawarkan berbagai kemungkinan makna. Seperti tampak kuat banyak berkisah mengenai hubungan manusia. Melihat perilaku manusia melalui hubungan anak-ibu, anak-ayah, anak-ibu-ayah. Hubungan itu diangkat tidak semata dalam konteks bahasa, psikologis dan hubungan darah, melainkan memainkan banyak metafor untuk membolak-balik pola hubungan itu sehingga mampu mengolah sudut pandang anak dengan permainan waktu yang memikat. Buku puisi tersebut berisi puisi-puisi yang dipilih dari ratusan puisi yang ditulisnya dalam rentang waktu 1991-2012. Melalui buku tersebut dapat dilihat semacam ikhtisar perpuisian Joko Pinurbo dan pada saat bersamaan menikmati tamasya rohani yang mengasyikkan dan sering mengejutkan pembaca. Detil rasio dan urut-urutan panca indra tak perlu dituntut dipersoalkan, yang penting ada yang tertangkap, dialah lanskap yang menyelubunginya, seperti yang ditegaskan oleh pengarang dalam pengantar kumpulan puisinya (Pinurbo, 2013:vii).

Dari dasar ciptasastra merupakan pengungkapan fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan), maka sebuah ciptasastra bernilai apabila adanya keharmonisan antara isi yang baik dengan struktur yang baik pula. Apa yang disajikan dan bagaimana menyajikannya adalah dua hal yang menentukan berhasil tidaknya sebuah ciptasastra yang menghasilkan sebuah keindahan (estetika) karya sastra, sehingga muncul metode dan teori sastra yang menerangkan bagaimana meneliti karya sastra. Endraswara (2008:12), mengungkapkan “penelitian sastra akan mengikuti sistem berpikir ilmiah, menggunakan metode, teori, analitis, dan kreatif”.

Metode sastra adalah cara menilai karya sastra dari bentuk, isi, dan sifat sastra sebagai subyek kajian. Teori sastra adalah studi prinsip, kategori, dan kriteria yang ada pada sastra itu sendiri. Eagleton (2006:263), menerangkan “Kebanyakan teori sastra yang telah kita lihat pun cenderung melihat karya sastra sebagai ‘ekspresi’ atau ‘refleksi’ realitas: sastra mementaskan ulang pengalaman manusia, atau mewujudkan maksud pengarang, atau struktur sastra mereproduksi struktur benak manusia”. Struktur sastra mereproduksi benak manusia, di mana manusia dijadikan sebagai objek kepengarangan oleh pengarang, dikarenakan dalam kehidupan manusia tindakan atau perilaku bermasyarakat dipengaruhi oleh problem sosial, sehingga menjadi sebuah karya sastra yang baik dari segi struktur batin maupun fisiknya, apalagi yang di teliti adalah sebuah puisi yang penuh dengan teka-teki bahasa.
Read More..

Sabtu, 18 Mei 2013

KUPU-KUPU TERBANG, DUH SAYANG




lihatlah ini malam
kupu-kupu terbang warnanya merah
semerah bibir-bibir bunga yang gugur di muara
harum tereja oleh belukar senja
lantas terbawa alir menuju samudra
terbelah oleh angin, membekab dingin
mungkin sedang lapar dari kerinduan
akan haus pelukan kekasih tersayang

saat musim sejenak beku
sulur-sulur pohon rantingnya kelu
diterjang badai yang meledak-ledak
berharap gemuruhnya meluap di jakunmu
menjadi malam angka-angka tinggal
dari lembar sayap melempar mata dajjal
sebab, taburnya laksana bebintang di dinding langit

mengkerlip di antara reruntuhan awan
lantas mengelupas menjadi bulir-bulir hujan
dan jatuh di taman mandalawai
siapalah yang tidak menyemai

"akankah rembulan cahayanya terpinjam ini malam?
ah, betapa kekarnya rimba"


malam kembali hampir pagi
sementara kupu-kupu itu hangus di serambi
mengejar bayang mengubur sunyi
pada bulan-bulan kenangan
duh sayang,
kupu-kupu menjadi arang

"sebelum tasbih berakhir, mari kita rampungkan percakapaan ini...!"

disanalah waktu menjadi kejam
menyambut sungsang, meretas cahaya malam




Grobokan, 21 April 2013
Read More..

Wajah Malam


engkau rembulan berwajah awan
tuntaskan malam mengais fajar
menarilah selembut angin
merintihlah seringkih ranting
sebab rindu enggan berguru syahdu
dari benalu bertaring seribu
jadilah malam itu hujan tumbuh
bersemi menabur keriuhan peristiwa
di atas seru nada menggiring duka
pada cinta tak tau tertinggal di mana
mungkin lusa hari pekan raya



24 April 2013
Read More..

Cahaya Bunga Hitam

sepasang mata itu akhirnya runtuh setelah angin memberi kabar tentang bunga hitam
langit sepi merubah wajahnya menjadi berawan, laun gelap
merembah di atas tanah yang baaunya tak kau inginkan
tiada kau dambakaan dan kalian rencanakan sebelumnya
dan gemuruh tiba-tiba pecah dalam kobar membara
seperti api dari tungku dengan air di dalamnya mendidih
sementara hujan yang tak di undang berdatangan dalam tajamnya
seperti jarum-jarum menyulam kain menjadi sehela pakaian
ya, pakaian kesucian menghantarkannya pada dingin malam sendiri
tiada tembang pun kehangatan kekasih mendekab dengan segala pelukan
yang ada hanya kemiskraman dan suara-suara yanag pecah menambat segala keheningan

"hanya waktu menjadi jawaban di antara kegelisahanmu"


24 april 2013
Read More..

Menanti Detik Tanya


kemana lagi kucarai engkau, duh kekasih
semenjak musim lusa yang nampak ringan itu
leret bayangmu mengendap di atas malam-malam buta
menjadi huruf-huruf yang bersiap-siap kan menembus kelu kembara

di ujung jalan itu kita sama-sama tahu
antara mata kemata saling memberi pesan
bahwa ada gejolak yang hendak terpupur menjadi sejengkal kisah indah
layaknya bebunga tumbuh di taman
aromanya mengendap-endap hingga mencuri sehela sadjak
jadilah gairahku mengidap lembar wajahmu

di sinilah kita berjanji menguraii segala kegelisahan malam itu
lantas engkau kan merebahkan segala kerinduan yang selama ini membrangusmu, pun diriku
dan seketika itu terjadi
kita tak lagi menjadi sepasang burung mengerling sebelah mata
namun jelas waktu kan terbaca


24 April 2013
Read More..

Kubaca Jalan

"ini malam menjadi riuh
antara bulan-bulan yang tanggal di atas ubun kota
dan tentang cahaya-cahaya yang tumbuh menelan sukma"


ya, di kota rombong inilah gemuruh itu menjadi biji-biji api
meluap-luap berharap meledak di pucuk bedil
menjadi jejak-jejak keriuhan pada hening yang kembali menghunus gairahku

di sini seakan daun-daun gugur warnanya merah
laun berserakan ditepian jalan dengan meminjam cahaya rembulan
yang bundar seperti route simpang lima dengan di tengahnya nampak tempayan air mencakar langit
inginnya membasuh raga sembari berenang dalam hangatnya perjumpaan
sebab dingin telampau purba melipat-lipat kerinduan
dan inginya melukiskan wajah di dinding-dinding
tapi, hanya bayang-bayang yang bersandaang ria
beriak seperti gelembung-gelembung didih

tahukah kalian,
hendak menegur sepi dengan sederet tembang
tapi belum sampai dilarik nada pertama, tembang itu runtuh setelah bengisnya malam mendekab dinginnya kemiskraman
sementara lampu-lampu yang menarik aura, tiba-tiba saja redam dan kandas terbalut sepi
mungkinkah ini terlampau larut?
ah, aku tak tau
sebab ini kali pertama cemburu

"sedap malam kemana tarian sunsangmu
aku ingin menuntaskan sunyi sepi
seperti kering tanah di telan terik
riuhnya mengambang kegersangan"


kubaca jalan,
hanya bara beku mengkistal di antara lampu-lampu

Grobokan, 21 Maret 2013

Read More..

Menatap Nisan UJE

"mari kita rampungkan percakapan ini"

aku semaput di depan pintumu, setelah kau benar-benar seret diriku pada kesenduan tempat yang teramat kuimpikan. tanggal dari biji bola mata, laun mengendap di antara gersang tandus tanah melahirkan berjuta pejuang di atas-jung-jung perkasa. meski sejarah nampak jauh, namun kurasakan betapa gaduh saat itu. saat dimana petarungMu meninggikan bendera dan mehimpun tiap biji-biji yang kelak terjadikan sekarung saku menemu pintu gerbang perjalanan.

tetap saja udara semakin melarutkan segala kesunyian saat raga ini lungsruk, dan angsup pada suasana yang kini bukan mimpi buta.

"kenangan itu ambyar bersama musim berserakan"




18 april 2013
Read More..

Kekasihku

kekasihku
engkaulah embun itu pagi
menari-nari seranum bunga musim semi
di antara kuntum dan jerami

kekasihku
jadilah aku seperti kicau kenari
saat anggunmu menuntaskan segala tarian sunyi
yang membalutku seperti api

kekasihku
andai engkau benar torehan ilahi
biarlah diriku tak hanya punya mimpi
atau lautan dini hari
yang sepi elegi

kekasihku
meski hujan kembali mengecup dini hari
biarlah aku menjadi sederet pelangi
di atas segala gemuruh negeri
oh, kekasihku
abadi

Ngawi, 14 April 2013

Read More..

Langit Gersang Cahayanya Beku

"kerinduan ini haruskah kandas ditelan hening malam
seperti angin yang perlahan kering mengecup ranting kebekuan"


membaca warna jagat,
di langit bebintang seperti melambai bayang
nampak dinding dangan diam hendak menjadi nada kerinduan
pada hari panjang seletas bulan kenangan
ya, april

di tempat teduh ini sempat kita terduduk berdua
meresapi laman-laman alir air menjamu telaga mesra
menjadi pesona raya pada leret warna bunga
dengan aroma yang dirimu dan aku saling mengerti
saling menuntaskan segala ketiadaan sepi
sembari mendengar deruseru ranting menggunjingkan lapak pengkabaran
antara air dan api yang selalu bertatap ruang
disanalah kita berada
membawa segala torehan pena

detik-detik yang telanjang
tiba-tiba merubah tik-tik hujan tumbuh di lautan
laun bergemuruh dalam terjal riaknya
menjadi gelombang dengan taring yang mencakar
seperti gading retak mencacah kalender tua
dengan meninggalkan angka di setiap bayang sendawa

semestinya perjalanan buta, malam pun menjadi legam
jejak-jejak bisu mengurai kelambu dengan cahayanya abu-abu
lantas berubah menjadi kegelapaan pekat
seperti ladang bara bergairah kemudian padam di hembus angin
tinggallah menjadi abu keusangan musim
dan disitulah kebekuan itu menemu payau takzim

ya, april
cukuplah engkau tau
debu cahayanya menjadi rajam kelabu waktu


Ngawi, 14 April 2013
Read More..

Wajah Taman

kuncup-kuncup mekar di taman malam
mengejar kerlip bintang menarik ruang
menjemput rindu rentang kalbu
yang harinya kering di rudung angin
kembali di serambi beku

dengan cahayanya, siapa hendak bertahta
lantas menari di lautan jingga
sembari menetakan tarian-tarian purnama
seliuk musim-musim pancaroba

dan siapa pula tak merindu kuncup-kuncup itu
sedang rindu kian menggebu-gebu seperti gelombang
meliuk, lantas mencakar karang dengan sederet terjang
ketiadaan bayang-bayang

"aku takkan iba, andai kau menawan sukma"

Ngawi, 13 April 2013
Read More..

Akhir Malam Berjumpa

dan sekirannya ini adalah akhir malam kita berjumpa
biarkanlah rindu ini selayaknya terjaga
menjadi cahaya di antara malam-malam sesungguhnya
antara samar rembulan merundung langit senja

dan sekiranya ini adalah akhir malam kita berjumpa
layaknya purnama pagi mengungkap mimpi
biarlah gelombang-gelombang cinta tanda kebekuan hari
yang kan mengisi ruang pantai menjadi bulir-bulir pasir
di mana jejaknya kan terkenang segeramang angsa di bening telaga

dan sekiranya ini adalah akhir malam kita berjumpa
mengapa hujan begitu tajam
tiada menyisakan sehela keredaan di tabur jalan
perlahan angin surut
bayang-bayang itu semestinya berangsut
menjadi sekedar pelepasan malam angslup

13 April 2013
Read More..

Bronto Sepo

Di tengah tarian malam
Wajah-wajah beku perlahan menghilang
Entah siapa menjemputnya pulang menimbun kenangan
Sedang bayang-bayang kian telanjang dalam dekapan
Seperti gelombang pasang lautan senja
Pastilah gulung deburnya menusuk ruas telaga sukma
dan tuntas menyibak nganga bara

Sekiranya malam larut
Di antara musim bunga membakar gelisah samudera
Tak ada yang mampu kulakukan
Selain meramu sunyi sepi gangsal-gangsal purnama
Menjadi geramang nada yang pecah tak tuntas-tuntas
Sembari membaca kembali rongga-rongga jejak purba
Yang lamat tiada reda menyuluk air mata

Dan kerinduan ini semakin tak bertepi
saat gairahnya melebihi lalat api


Ngawi, 10 April 2013
Read More..

Laman Purba Kembali Berkata

semenjak surya senja tergelam di antara sela-sela karang
serasa kulihat lagi dirimu tumbuh menjumpai ladang
kembali menabur biji-biji bunga
laun dengan lembut kasih kau siram teduh
dan engkau pun tak lupa
memberi sapa pada selarik cahaya yang berkilau di dinding mega
ah, tak kukira
ternyata engkau tiada tuntas-tuntasnya membawaku
berlari di kelambu merah jembu
meski segalanya telah raib ditelan beku waktu

: lautan pecah, jangan kau tarik lagi diriku menekuri terjal gelombang
yang menjadikanku selesu debu melumut kelu

10 April 2013
Read More..

Tetes Gerimis

semestinya bayang-bayang itu tinggal pertanda waktu
lantas mengapa musim serasa masih tetap sama
bahwa leret cahayanya tiada redang mengepul bara
seperti tajam pisau menggores batu
lekang di antara sadjak seribu

dan semestinya bayang-bayang itu sangkar sembilu
izinkanlah lembah madu menemu dangkal alirnya
seperti air mengalir pastilah sampai muara
laun menuju samudra
hingga sirna menjadi sederet bait tua

"bawalah rinduku menuju purnama
sebab bosan telan memenjarakanku
menjadi gugusan-gugusan abu
lebur di antara tetesan-tetesan gerimis senja cemburu"



09 April 2013
Read More..

SANGSI

Merudung bulan purnama
Masihkah aku harus percaya penyair
Kalau di tiap lorong malam masih tersisa sosok jeritan
Dengan kejam mencabik-cabik sepotong kenangan
Telanjang di muka bayang-bayang

Bukankah katamu dulu,
“Puisi adalah nurani. kutukan Ilahi,
labuhan dari beribu gelora sunyi sepi,
pula gairah rindu di atas segala lekuk tarian elegi”

Bagaimana kumampu memahami setiap patah jeritan yang tumbuh merdu itu?
Andai kerap kali waktu menjelma teka-teki baru
Sedang kunang-kunang telah pulang bersama ribuan burung melaknati malam sembilu

Dan semuanya menjadi kegaiban beku
Bagaimana aku bakal memahamimu?
Oh..., telanjang malam
Mata rabunmu merubah dingin rahasia kuburan waktu
Sebab bulan-bulan masih senantiasa berdarah legam lesam
Menyamaki angin merajut gelombang pulang

Tak bolehkah aku sangsi
Kalau penyair tak lagi jujur berpuisi
Merdu hanya di atas segala bunyi

Ngawi, 05 Mei 2013
Read More..

Senin, 08 April 2013

NEON-NEON MALAM DI SURABAYA


Ini Surabaya,
Kota lama lautan harum bunga
Di mana, berjuta air mata tanggal
Berjuta sukma terpenggal
Dengan darah, siap mengepal
Tuk kibar merah putih tetap tinggal

Ini Surabaya,
Bila senja pulang dalam tenang
Gangsal malam pun bersandang rindu
Pijar neon-neon laun dengan sendirinya tumbuh seribu
Termangu-mangu sembilu di balai bambu
Apalagi di ruang beku, kerlip-kerlipnya tak kuasa mengadu-adu
Laksana permata dengan cahaya merah yang tumpah di tengah padang samudra
Lantas menjadi mutiara pada cangkang rona-ronanya
Seperti pula larva-larva lesam yang ambyar dari sarang
Meminjam leret rembulan di malam punama
Laun mengusung haus telaga kecupmu
Meski jari-jari hujan tumbuh seribu
Tetap, sungsang malam tiada sendu meramu kebekuan waktu

Ini Surabaya di malam terjaga
Syahdunya kian menggila, membakar teduh telaga
Nampak butiran-butiran kaca larut di antara bayang-bayang
Pada siapa kan meminta?
Sedang malam kian terbungkus kunang-kunang
Yang gusar menunggu sayang layang-layang
Menyeduh nganga gelora madu
menjadi tarian sandiwara surga lesu

Dan ini kali pertama diriku di Surabaya
Bermanja-manja di antara lautan bunga
Bukan pinta, bukan pula cinta menghanyut lebur kembara
Namun, ini suluk-suluk malam yang tiada reda menjerit-jerit pada rimba
Menjadi nada-nada kejora mencakar gulung gelombang bara
Laun terbawa angin menemu payau airmu

Oh, Surabaya
Sandingmu membawa jejakku telanjang beku
dari kelu dan ngilu jakunku

Ngawi, 07 April 2013
Read More..

PTK Bahasa Indonesia - SMU

Judul Skripsi:
Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dengan Menggunakan Metode Klos Siswa Kelas XI IPA 2 SMA

ABSTRAK
Kecepatan efektif membaca mempunyai peranan yang sangat penting, karena dengan membaca cepat dan kemampuan memahami bacaan yang berkualitas seseorang bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebiasaan membaca bahasa Indonesia yang kurang baik berdampak negatif pada tingkat keterbacaan seseorang atau seorang siswa. Untuk mengatasi hal tersebut sangat dibutuhkan usaha dan kreatifitas guru. Penerapan metode Klos dalam pembelajaran membaca merupakan salah satu upaya memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian tindakan kelas ini yaitu untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dengan menggunakan metode klos siswa kelas XI IPA 2 SMA ...
Penelitian tindakan kelas ini mengambil setting di ... kelas XI IPA 2, dengan jumlah siswa 40 siswa. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan melalui tiga siklus. Sebelum siklus I dilaksanakan perlu adanya pra tindakan yaitu identifikasi tentang metode klos dan Kecepatan Efektif Membaca (KEM), kemudian dilaksanakan siklus I sebagai penerapan metode klos, siklus II sebagai implementasi pelaksanaan metode klos, dan siklus III sebagai tahap pemantapan. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif yaitu digunakan terhadap data kualitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan siswa dan guru selama berlangsungnya pembelajaran di kelas, dan analisis kuantitatif yang digunakan terhadap hasil tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa dengan menggunakan metode klos.
Hasil penelitian pada siklus I tingkat keterbacaannya masih rendah, karena kecepatan efektif membaca rata-rata 87 kpm dengan tingkat Independen 18 %, tingkat Instruktional 38 % dan pada frustasi 44 %.
Pada siklus II hasil penelitian mengalami perubahan positif yaitu kecepatan efektif membaca rata-rata 150 kpm dengan tingkat Independen 78 %, tingkat Instruksional 18 %, dan tingkat frustasi 4 %.
Hasil penelitian pada siklus III mengalami pemantapan yaitu rata-rata Kecepatan Efektif Membaca (KEM) 210 kpm dengan tingkat independen 100 %.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa aktivitas pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos dapat meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa.

Download : Skripsi 1 Skripsi 2 Skripsi 3
Read More..

Skripsi Feminisme

Judul skripsi :
FEMINISME DALAM NOVEL SWASTIKA KARYA MAYA WULAN (Analisis Sosiologi Sastra)

ABSTRAK
Perempuan selalu ditempatkan di bawah laki-laki. Perempuan selalu dianggap sebagai pihak lemah dan harus mengalah kepada laki-laki. Berkuasanya laki-laki sebagai pihak dominan telah mengecilkan peranan perempuan yang berimbas pada citra diri perempuan sebagai pihak yang tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan nasib sendiri. Perempuan selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki.
Novel merupakan gambaran kehidupan yang nyata dari zaman pada saat novel tersebut ditulis. Novel bukan sebagai karya sastra nonfiksi, akan tetapi novel merupakan cerita nyata yang menggambarkan kehidupan para pelaku dari zamannya. Novel bisa juga diartikan sebagai pencatat sejarah pada zamannya.
Sastra mempunyai fungsi sosial atau manfaat sosial yang tidak sepenuhnya pribadi. Permasalahan yang terdapat dalam karya sastra biasanya menyiratkan atau menggambarkan masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sehingga sastra tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan ilmu yang mempelajari karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek masyarakat, seperti asal usul dan pertumbuhan masyarakat. Hal-hal yang terjadi di masyarakat ditulis dalam karya sastra yang berbentuk novel, cerpen, puisi atau yang lainnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Mendeskripsikan kekerasan psikis yang dialami oleh tokoh perempuan dalam novel Swastika karya Maya Wulan, 2) Mendeskripsikan kekerasan fisik yang dialami oleh tokoh perempuan dalam novel Swastika karya Maya Wulan.
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data utama adalah novel Swastika karya Maya Wulan. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode interaktif yang terdiri atas tiga komponen yaitu : 1) Reduksi data (data reduction), 2) Penyajian data (data display), 3) Penarikan kesimpulan (conclution drawing).
Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Kekerasan dibagi menjadi dua, yaitu, kekerasan psikis dan kekerasan fisik. Kekerasan psikis dan fisik dibagi menjadi tiga yaitu : 1) Kekerasan dalam area domestik/hubungan intim personal, 2) Kekerasan dalam area publik, 3) Kekerasan yang dilakukan oleh/dalam lingkup Negara.
Kesimpulan penulis dari penelitian ini adalah kekerasan psikis yang terkandung dalam novel Swastika adalah sebagai berikut : 1) Kekerasan psikis dalam area domestik/hubungan intim personal, 2) Kekerasan psikis dalam area publik. Kekerasan fisik yang terkandung dalam novel Swastika adalah kekerasan fisik dalam area publik.

Download : Skripsi 1 Skripsi 2 Skripsi 3
Read More..

Jumat, 05 April 2013

SEMALAM DI PALESTINA

Semalam,
Tak ada yang meminta hujan di Palestina
Sedang di langit, matahari tak bosan-bosannya menjerit
Menjadi peluit, dan kaki-kaki lekas berdecit
Lantas redam dalam hitungan detik

Semalam,
Tak ada yang mengundang badai di kota seribu duka
Sangit mesiu menjadi aroma gempita senja
Segalanya terlahir dari musim-musim berburu
Dari rahim-rahim ajal

Semalam,
Di tanah merah itu jam-jam menjadi beku
Detik-detik bermimpi pun kandas bersama mulut meriam
Dan rentetan peluru yang masih hangat menjadi bola mainan
Pada bayi-bayi yang belajar mengokang senapan
Saat bunyi-bunyi pecah menampar pelukan
Dan cahaya mata yang merah menyala-nyala
Menjadi sadjak-sadjak yang tanggal pada angka-angka yang tetap tinggal

Semalam,
Ada yang tertatih-tatih membaca kabar media
Bahwa di Gaza malam berpesta aroma bunga
"Bapa, aku ingin menulis puisi cinta,
seperti palestina tak lelah air mata"

Ngawi, 28/03/13
Read More..